About Me

Foto saya
Jakarta, Indonesia
Take the way you want and kick the threat. Running with full speed like a deer. And loud of laugh!

Senin, 06 Juni 2011

Nobody Loves Me like You Do (by Edward Chen)


Each time when I feel all things disappeared
I'm so glad that You are here
Through the darkest night
You always be my light
And You guide me all the way

Only you can heal broken part in me
By Your love and sensitivity
With You were by my side
Everything will be alright
You help me to see the beautiful things
You gave for me

Nobody loves me like You do
You touch my heart with love so deeply and true
I have been searching for my whole life through
Just to found that Nobody loves me like You do

Minggu, 05 Juni 2011

"LOOK AT ME"

A game played just for laughs and have fun.

Kami memasang barisan di meja panjang sebuah tempat makan sederhana. Permainan lama yang menguras pikiran untuk semakin jeli dan detail melihat persoalan. Yang terlalu lama tidak menemukan jawaban menjadi bahan tertawaan kurang lebih 9 orang.

Tertawa yang tidak berhenti. Aku tertawa, mereka tertawa, lepas, tanpa beban. Melupakan setiap titik jenuh kami akan segudang aktivitas. Melupakan rasa sakit akan goresan luka di hati, melupakan setiap detail kesesakan dan kelelahan.

Aku benar-benar melupakannya saat itu. Aku bahagia.

Sahabat. Itu mereka. Tidak membutuhkan uang untuk mendapatkan ketulusan mereka. Tidak dibutuhkan emas berlian untuk mendapatkan tawa bersama mereka.

Mereka itu tulus, mereka adalah alasan mengapa aku bisa bertahan akan rumitnya jalan. Tidak!!! Alasan lain mengapa aku bisa bertahan akan pikiran rumitnya jalan-jalan ini.

Tidak ada kekakuan antara kami. Yang lemah dkuatkan, yang kosong dipenuhkan. Sungguh aku merasakan hal yang begitu baik bersama mereka. Tidak hanya tertawa, menangispun mereka berada tepat di sisi ku.

Mungkin terdengar begitu biasa dan sederhana "sahabat ada tidak hanya dikala bahagia, namun menangispun bersama" dan kita banyak menemukan beberapa kelompok pertemanan yang tidak ada saat duka terasa.

Namun aku pastikan, sahabat baik dan benar itu masih ada dalam dunia. Aku menjadi saksi, karena aku memiliki sahabat yang penuh akan kasih. Kasih.... Tidak hanya menberikan tawa, tapi memukul dengan tongkat saat mereka tidak dalam track yang benar. Karena sahabat tidak menginginkan sahabatnya tersandung.

Ya, itu aku rasakan.

Terima kasih untuk anugerah ini.Karena sahabat adalah anugerah.

Sabtu, 04 Juni 2011

Perbincangan Tentang Sahabat

TODAY!

Disaat pak boss 1 berada di luar kota, dan pak boss 2  (boss baru) belum banyak adaptasi, sabtu pagi menjelang siang dikantor tanpa di temani Ms. T yang lagi cuti dan menikmati weekend bersama sang pacar.

Sambil santai dan up date blog, gue iseng-iseng baca blog Ms. T, gadis muda santai yang gue kenal cuma 1,5 bulan dikantor lama. Harus gue akuin, dialah orang yang membantu gue untuk ga ngedumel tiap kali harus keluar masuk ruangan pak boss dalam kurung waktu yang cukup lama atau pulang lebih malam seperti biasanya.

Kami resign di tanggal yang sama, setelah itu, kami hanya berteman di dunia maya. Jarak ternyata bukan masalah yang membuat kami tidak berteman. Gue di Jakarta, dia di pekan baru, tapi rasanya kayak jungkir balik 1 lompatan, kayak disebrang meja kerja, dibalik layar komputer.

Ada aja diomongin. Lucunya, gue bisa kenal temennya, temen gue bs kenal dia, bahkan orang yang sama-sama ga pernah kita kenal bisa jadi temen kita. Hahahaha, terlalu lucu jenis pertemanan ini.

Dia bilang, kalau dia ga suka sama orang yang deket karena butuh aja. Ga butuh ya ga usah deket.

Ya, gue diingatkan lagi sama dia, kalau emang banyak jenis manusia kayak gitu. Manusiawi memang. Tapi bukan berarti jenis itu ga perlu dibantu. Kalo kita jauhin, siapa yang nolong dia? Mungkin dia ga sadar kalau dia “seperti itu” , kalau bukan kita yang ingetin, siapa lagi? Kodok?

Kalau setelah itu dia pun tetep ga berubah juga, baiklah, kita cari sang kodok yang mampu buat dia berubah :D

Oh iya, Ms. T juga ngingetin gue yang namanya ketulusan.

Dan waktu gue bilang “ T, banyak kok orang kayak gitu di dunia ini”

Dia jawab “ Enggak, buktinya, gue kenal kalian yang tanpa embel-embel. Elo, mas Agus, Ogik. Gak ada juga yang gue butuh dari kalian. Tapi kita tetep deket “

Kira-kira seperti itulah percakapannya meskipun gak sama persis.

Oh iya T, gue lupa bilang sama lo, meskipun dia terkesan "datang saat butuh", gue rasa kita - manusia, akan ada masanya datang ke orang yang pernah kita sapa, saat kita "butuh" dia. Santai ajalah.

Lanjut gue “ Hukum seleksi alam tetep berlaku T. Yang gak sesuai ya akan tersingkir”

Dia suka dengan perumpamaan “hukum seleksi alam, ya? Like This”

Oh iya T, gue lupa bilang sama lo selain ketulusan, dibutuhkan sifat mau mau mengerti atau mau menerima. Cukup sederhana namun rumit untuk dilakukan.

Kalau ga ada berantem-berantemnya, gak afdooolll, hehehehe. Disitu ketulusan bisa dinilai.

Kayaknya kita harus ngalamin itu deh :D

The last day we met in Jakarta after resign

Visi dan Ambisi

Dulu masing-masing pribadi menyimpan rapat rahasia mereka dalam kumpulan kertas yang dinamakan diary.  Bahkan banyak yang menggunakan buku yang memiliki kunci agar tidak dapat dibaca oleh orang lain. I think there is no longer a secret for everybody.

Social media becomes a tool to share their life stories. Dengan berbagai jenis “story”. Ada yang berkata-kata positif, ada yang berisikan kapas -  diterpa angin berhembus terbang dan tak kembali, atau mencuci pikiran dengan perkataan tidak bermutu.

Siswa yang terancam dikeluarkan dari sekolah karena mencela kepala sekolah di status facebooknya. Politikus yang meminta maaf kepada rakyat karena merusak nama baik lawan politiknya. Orang semakin giat belajar untuk menguasai teknologi, siang dan malam mencari cara mengembangkan sang teknologi.

Berawal memiliki visi menciptakan sesuatu yang bermanfaat, namun ambisi menghancurkannya. Semakin pintar manusia, semakin besar ambisi mereka. Salahkan memiliki ambisi? Aku tidak bisa mengatakan itu benar atau salah. Tapi aku tidak sdetuju dengan kata ambisi. Menurut ku ambisi akan membuat kita berusaha melakukan apapun untuk merealisasikan atau mendapatkan keinginan kita, ambisi kita. Dengan cara apapun.

Menurut mu, orang-orang pintar dalam teknologi, membantu membobol rekening bank, mencuri data, mengubah gambar dan video menjadi hal yang tidak layak untuk diperlihatkan dan menjadi kepuasan bagi khalayak berotak rusak, mereka kah yang memiliki visi baik? Mereka berambisi, menguasai dunia dengan kepintaran mereka.

Oh really, aku rasa setiap hal yang tercipta bukan menjadi penguasa atas hidup kita, seharusnya kita yang menjadi penguasa atas setiap hal yang tercipta di dunia ini. Mereka menganggap diri mereka pintar, seorang pencipta. Please open your eyes, tidakkah kalian sadar penciptalah  yang di kontrol oleh ciptaan mereka.

Siapa yang bodoh dalam hal ini?

Pergunakanlah segala hal yang ada di dunia ini untuk tidak menciptakan atsmosfer negatif. Kalau kalian menulis “ Gue rasa hidup ini ga adil! Berusaha baik tapi ga dihargai, baiklah gue ga akan berbuat baik” di status anda. Akankah ada orang yang setuju akan pendapat itu. Absolutely , YES! Dan dia akan melakukan hal yang sama, mengingatkan dan mengajak yang lain untuk melakukannya. Setelah itu, hampir setengah penjuru dunia setuju untuk tidak melakukan kebaikan. Itulah dampak dari perkataan mu. Segala yang keluar dari mulut mu, berasal dari hati mu dan berdampak untuk sekitar mu.

Berkata positif tidak membuat mu jatuh sakit bukan?

Jumat, 03 Juni 2011

Si Pohon

Satu benih kecil, yang mudah untuk dihancurkan, tidak diindahkan atau dipandang. Namun satu benih kecil dapat membuat banyak mahluk bergantung padanya.

Si Pohon. Satu kata sederhana yang mungkin jarang sekali diperhatikan oleh kebanyakan mahluk yang berpikir. Banyak hal yang dapat dimanfaatkan oleh si pohon dan banyak hal yang bisa menjadi pelajaran dari si pohon.

Si Pohon. Berasal dari si benih kecil yang terlihat tidak berarti. Si penanam yang dengan sabar memelihara dengan memberi makan dan minum, merawat dan membuang setiap ilalang yang menjadikan penghalang untuknya bertumbuh serta matahari sebagai penyinar. Atau si penanam yang lupa untuk merawat sang pohon yang berakhir mati tak berfungsi.

Si Pohon tumbuh kian hari, 2 cm, 5 cm, 10 cm, 1 m, butuh kesabaran mendapatkan si pohon berakar kuat dan berdahan kokoh. Setiap dahan dihinggapi  burung-burung yang bersarang sebagai tempat perteduhan. Sang pohon yang berbuah lebat dan manis, dapat dipanen dan dinikmati kebanyakan orang.

Semakin tinggi pohon berdiri, semakin kencang angin menghembus,  semakin pula dibutuhkan kekokohan dahan.

Ya, pohon! Akar dan dahan tak dapat berdiri sendiri. Mereka harus menyatu. Jika dahan dipisahkan dari si pohon, dahan itu akan mati. Itulah pegangan hidup. Siapakah pegangan hidup mu?

Pohon pun harus dijauhkan dari setiap ilalang-ilalang, ulat atau mahluk lain yang mengancam pertumbuhannya. Jika harus di basmi dengan racun mematikan, haruslah dilakukan. Saat kelalaian membiarkan sang musuh datang menghampiri dengan menyamar sebagai malaikat terang, sedikit demi sedikit, pohon itu akan digerogoti dan membusuk tak berdaya.

Siapakah kamu dalam hidup ini?

Angin menerpa hidup kita masing-masing. Musim silih berganti, dingin dan panas yang mengeringkan serta hama perusak berkeliling sepanjang masa. Kekokohan hati dan kaki menentukan kemenangan diri. Seberapa besar menolak banyak tawaran manis berujung maut. Sekuat karang akan terpaan ombak, begitulah kekuatan yang harus dimiliki.

Penentu pohon berbuah manis dan berdahan kuat: asupan yang dikonsumsi. Cukupkah mineral dalam akar-akar itu? Pupuk sebagai makanan dan mentari sebagai terang? Gemburkah tanah itu sebagai pijakan sang akar?

Lingkunganlah yang menentukan.

Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai. Menabur benih anggur, anggurlah yang dituai. Menabur angin, badailah yang dihasilkan.

Pohon…..

Berikan keteduhan dan buah yang manis untuk dirasakan.

Itulah fungsi mu.


Kamis, 26 Mei 2011

Buah Manis untuk Generasi

Hidup itu seperti pohon. Dimulai dari benih, tumbuh , membesar dan menghasilkan buah. Seperti itulah kita diciptakan. Dari benih, lahir, kanak-kanak, dewasa dan memiliki anak serta cucu.

Seperti apakah buah yang dihasilkan dari setiap pohon? Pohon baik dengan buah yang manis? Atau pohon baik dengan buah yang busuk?

Perhatikan cerita singkat berikut dan nilailah hidup kita. Buah apa yang kita hasilkan.

Cerita 1

Sessy, dilahirkan dari keluarga terpandang. Sejak kecil hidupnya tidak pernah kekurangan. Segala fasilitas baik selalu ia dapatkan.  Ayahnya seorang pengusaha, ibunya seorang dokter. Ayahnya sangat pemgambil keputusan yang bijak, ia mengerti bagaimana membagi waktu antara karir dan keluarga. Tidak pernah ia hiraukan keluarganya disaat kesibukan menghampirinya. Pekerja keras dan sosok seorang pemimpin yang rendah hati. Dia sangat dicintai oleh kebanyakan karyawannya. Ia juga pemurah, sangat memperhatikan kaum kekurangan.

Sedangkan ibunya ada seorang dokter yang memperhatikan rakyat kecil. Ia sering menjadi tenaga sukarela di beberapa kegiatan sosial. Dan ia seorang ibu penyayang. Ia sangat memperhatikan kebutuhan Sessy dan keadaannya.

Lalu bagaimana dengan Sessy? Sebagai anak tunggal, Sessy selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Kesibukan orang tuanya bukan berarti membuatnya kurang akan perhatian. Ia merasakan kesempurnaan dalam keluarga. Namun tidak untuk dirinya sendiri. Diusia menginjak 18 tahun, Sessy merubah kebiasaan baiknya dengan menghamburkan uang kedua orang tuanya, prestasinya menurun, pergaulannya berubah menjadi kelam, dan diusia 19 tahun ia terjebak dalam narkotika. Kelembutan hati kecil dari seorang gadis mungil berubah menjadi pemberontakan.

Tidak jarang ia menyakiti hati teman dan sekelilingnya, termasuk ayah dan ibu yang ia puja dimasa dulu. Hidupnya semakin memburuk saat ia diperhadapkan bahwa ia harus menghabiskan beberapa tahunnya di dalam sel penjara.



Cerita 2

Atau kisah Garar, anak dari keluarga sederhana. Berawal dari ayahnya seorang yang memiliki posisi baik di suatu perusahaan. Namun roda kehidupan berputar, PHK besar-besaran membuat ayahnya menjadi seorang pemabuk sedangkan sang ibu pekerja keras. 7 tahun hidupnya diliputi ketakuatn, karena sang ayah yang kerap khilaf memukul ibu dan dirinya saat pulang dalam msbuk. Uang bulanannya habis hanya untuk dibelikan alkohol, dan ibunya harus berjuang keras untuk mencukupi biaya bulanan keluarganya.

Namum Garar tidak mau berhenti berharap, di usia 17 tahun ia tetap mengejar cita-citanya, ia belajar begitu rupa dan berusaha mencari penghasilan tambahan untuk bisa tetap kuliah. Ia tetap mencintai ayahnya yang terasa seperti memiliki 2 pribadi yang berbeda. Dalam keadaan baik bisa menjadi sosok ayah penuh hikmat namun bisa menjadi ayah yang sangat menakutkan.

Tak pernah sekalipun ia membalas kepedihan yang diperbuat ayahnya. Tak jarang ia rela dipukuli saat membuang botol-botol minuman keras ayahnya. Dan tak jarang juga ia berani mengatakan bahwa ayahnya harus berubah. Semua ia lakukan untuk mengembalikan ayah yang dulu selalu menghangatkannya.

Di usianya ke 22, Garar menjadi sosok teladan bagi perusahaan, keluarga maupun teman-temannya. Karirnya melesat cepat. Teman-temannya sangat bangga padanya,setiap kata dan hal positif yang keluar dari mulut Garar menjadi motavisi untuk teman-temannya. Garar disenangi banyak orang.

Ulang tahun ke 25, Garar mendapatkan hadiah terindah dari Tuhan. Penantian hampir 10 tahun akhirnya ia dapatkan. Ayahnya datang dengan penyesalan penuh untuk berubah. Detik itu juga perubahan terjadi. Ayahnya berkomitmen untuk tidak menyentuh minuman keras. Lintasan siksaan itu tidak lagi terbayang dibanding momen indah ini. Panjatan doa 10 tahun terasa ringan dan cepat.



Dimakanah kita?

·         Sessy berasal dari pohon baik, rantingnya masih kuat saat remaja. Namun ulat membuat pohon itu tidak tumbuh dengan baik. Pohon yang sempat berbuah baik, rusak dengan sekelompok ulat yang menggerogoti buah itu. Pohon itu tetap baik, tetap berdiri teguh, namun tidak sempurna dengan buah yang membusuk. Pohon itu tidak bermanfaat, karena buahnya tidak dapat dinikmati orang.
·         Garar, awalnya berasal dari pohon yang baik, namun dirusak oleh musim yang memburuk. Namun itu bukan menjadi alasan untuk tidak menghasilkan buah yang manis. Dukungan lingkungan membuat pohon itu berusaha untuk melawan cuaca yang tidak bersahabat. Pohon itu pun kembali kuat, dengan menghasilkan buah yang manis. Buah yang dinikmati banyak orang.

Bisakah keadaan itu diubah dan berubah?

Selly menjadi buah yang manis yang dilindungi dari hama ulat atau Garar menjadi buah yang membusuk karena tidak mau menerobos kondisi cuaca yang buruk? Jawabannya bisa.

Bukan berarti orang tua yang baik menghasilkan anak yang baik juga, atau orang tua yang buruk menghasilkan anak yang buruk. Itu mempengaruhi, namun bukan menghasilkan.

Respon hatilah yang menjadikan buah itu sebagai hasil. Jika respon hati kita tidak menginginkan yang baik, maka keburukan lah yang kita hasilkan.

Milikilah respon hati yang benar, agar kita menghasilkan buah-buah yang manis. Yang dapat dinikmati oleh banyak orang dari generasi ke generasi…..

Jumat, 20 Mei 2011

Terang dan Garam

Lukas 14:34-35 “Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar”

Apa gunanya kita- sebagai rekan sekerja Allah, jika kita menjadi tawar? Kita tidak memiliki makna. Sebagai garam dunia, kita memiliki fungsi yang paling berdampak. Apa fungsi garam?

1.       Memberi rasa
Saat anda merasa teramat sangat lapar, dan membuka tudung saji di meja makan terlihat aneka makanan yang terlihat sedap, sup ayam, gulai, ayam bakar,telur goreng, nasi goreng,  apa yang akan anda segera lakukan? Mengambil piring dan segera menyantapnya bukan? Tapi, apakah anda akan meneruskan melahap makanan itu jika rasanya hambar karena tidak dibubuhi garam? Kebanyakan orang akan menghentikan makan mereka dan mencari makanan baru yang memuaskan rasa laparnya. Itulah tugas garam, memberi rasa. Namun, garam pun harus melarut. Meskipun bongkahan garam dimasukan ke dalam masakan, masakan itu tetap tidak enak, karena hanya sebagian yang asin – bahkan teramat asin, dan sebagian lagi tetap tawar. Seperti itulah tugas kita sebagai garam, harus melarut. Tidak hanya menceritakan kebaikan Tuhan dalam komunitas kita saja, tidak kepada keluarga kita atau kepada kaum miskin/kaya. Kita harus melarut, keseluruh pelosok dan bidang. Agar mereka mendapat rasa yang sama. Seperti  sayur pare dan lobak memiliki rasa yang pahit dan sepat, jika direndam dengan air garam (garam yang sudah melarut) dengan air) dapat mengurangi rasa pahit dan sepat tersebut.
2.       Mencegah kebusukan
Dari informasi mengenai garam dikatakan bahwa fungsi lain dari garam adalah mencegah kebusukan. Jaman dulu orang-orang belum memiliki sistem pembuangan seperti sekarang ini. Jadi, bila mereka hendak buang air besar, mereka menggali tanah, beberapa centimeter lalu menimbunnya dengan tanah. Bayangkan, jika kotoran itu terinjak oleh yang lewat ??? Sistem sanitasi yang buruk, menyebabkan penyakit diare mudah menyerang manusia dan salah satu penyakit yang paling ditakutkan saat perang. Salah seorang rekan bercerita kenapa bangsa ISRAEL bisa terhindar dari penyakit ini karena mereka menaburkan garam di atas kotoran mereka. Kotoran itu akan mongering dan tidak menyebarkan bibit penyakit.
Jika kita ingat bagaimana generasi saat ini, kemunafikan, ketidakpedulian, kejahatan, lupa akan kasih terasa sangat kental. Kita harus menutupi kebusukan itu dengan menjadi garam. Menutupi agar penyakit tidak tersebar.
3.       Mengawetkan
Garam juga berfungsi sebagai pengawet, karena garam mampu membunuh bakteri sehingga menghambat pertumbuhan bakteri. Dengan demikian garam mampu membantu membunuh dosa-dosa manusia dan menghambat pertumbuhan dosa tersebut.

Sudahkah kita berfungsi layaknya garam yang benar?

Matius 15:13 “ kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”

Alkitab jelas mengatakan bahwa kita adalah garam dunia, itu berarti kita memang garam dunia, bukan “kamu akan menjadi garam dunia jika….” atau “kamu bisa menjadi garam dunia saat kamu melakukan ….” Kita sudah ditetapkan Allah menjadi garam dunia, tidak peduli bagaimana latarbelakang kita, sejak dibentuk kita, manusia, anak-anak Allah = GARAM DUNIA, pemberi rasa, pencegah kebusukan dan pengawet bagi dunia.

Sekarang tinggal respon kita, apakah kita mau memberi dampak yang baik kepada generasi kita atau menutup mata telinga kita akan kebusukan yang sedang menggerogoti generasi ini. Generasi ada ditangan kita, maukah kita menjadi seorang father/mother yang membimbing generasi dengan tujuan kebusukan generasi itu terbunuh oleh garam-garamnya Allah? Ataukah membiarkan generasi ini membusuk sampai akhir? Jika pilihan ke-2 yang kita ambil, sepertinya kita sudah tidak bisa lagi menikmati makanan enak, karena tidak akan ada lagi rasa untuk makanan kita. Karena garam itu menjadi tawar.

Jadilah garam-garamnya Allah yang berdampak bagi dunia dengan cara melarut kepada lingkungan sehingga rasa itu tersebar sama rata.